Kabar Magelang
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kilas Magelang » Pohon Randu Berusia Ratusan Tahun di Borobudur Terancam Ditebang, Ikon Desa Tuksongo Terancam Hilang

Pohon Randu Berusia Ratusan Tahun di Borobudur Terancam Ditebang, Ikon Desa Tuksongo Terancam Hilang

  • account_circle admin.vimags
  • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
  • visibility 521
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sebuah pohon randu alas berusia ratusan tahun yang selama ini menjadi ikon Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, terancam ditebang. Pohon legendaris yang berdiri di Lapangan Randu Alas tersebut dinilai sudah mati dan berpotensi membahayakan warga maupun wisatawan.

Pohon randu alas ini dikenal luas karena posisinya yang strategis dan mudah terlihat dari kejauhan. Dengan batang menjulang tinggi dan latar belakang Perbukitan Menoreh, pohon ini kerap menjadi spot favorit wisatawan yang berkunjung menggunakan VW Safari, jeep wisata, ATV, hingga rombongan tur desa wisata.

Namun, di balik keindahannya, kondisi pohon randu alas kini memprihatinkan. Batangnya mengelupas dan tampak kering dari pangkal hingga ke ranting-ranting. Sejumlah dahan bahkan mulai rapuh dan berpotensi patah, terutama saat hujan deras disertai angin kencang.

Penampakan Pohon Randu Ratusan Tahun di Tuksongo, Borobudur (Foto : Yowen)

Di bawah pohon tersebut, sebelumnya juga dibangun area berteduh berbentuk setengah lingkaran yang biasa digunakan wisatawan untuk beristirahat dan berfoto.

Pemerintah Desa: Berat, Tapi Demi Keselamatan

Kepala Desa Tuksongo, M Abdul Karim, membenarkan rencana penebangan pohon randu alas yang telah menjadi ikon desa selama ratusan tahun.

“Sebetulnya kami sangat menyayangkan, karena pohon randu ini adalah ikon desa kami. Tapi usianya memang sudah ratusan tahun dan kondisinya sudah mati,” ujar Karim

Menurutnya, keberadaan pohon tersebut sudah ada sejak masa kakek buyutnya. Bahkan diperkirakan usia pohon mencapai lebih dari 200 tahun.

Penampakan Akar Pohon Randu Ratusan Tahun di Borobudur (Foto: Yowen)

“Dari simbah saya masih ada, pohon itu sudah besar. Jadi kemungkinan usianya lebih dari 200 tahun,” jelasnya.

Lapangan Randu Alas sendiri saat ini menjadi salah satu titik singgah wisata favorit di Borobudur. Banyak wisatawan masuk ke area lapangan untuk mengabadikan momen dengan latar alam pedesaan dan Perbukitan Menoreh.

“Rencana penebangan ini sebagai langkah antisipasi sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan,” tegas Karim.

Ia menjelaskan bahwa pohon randu alas tersebut sudah tidak memiliki inti kayu (galihe), sehingga rawan patah dan roboh.

“Yang kami takutkan, kalau tidak ditebang, ada ranting atau batang yang menimpa wisatawan,” tambahnya.

Upaya Penyelamatan Gagal Dilakukan

Sebelum memutuskan penebangan, pemerintah desa bersama BPD dan Bumdes telah berupaya menyelamatkan pohon randu alas tersebut.

“Kami sudah ke DLH untuk meminta pengupayaan agar pohon bisa disembuhkan dari pengeringan. Tapi setelah diobati, kondisinya tetap kering. Mungkin memang sudah waktunya,” ungkap Karim.

Rencana penebangan diperkirakan akan dilakukan dalam waktu dekat dengan melibatkan tenaga profesional dari luar daerah, mengingat ukuran pohon yang sangat besar dan prosesnya yang tidak mudah.

“Penebangan harus matang persiapannya agar tidak terjadi apa-apa,” ujarnya.

Warga Sepakat, Tapi Ingin Jejak Sejarah Tetap Ada

Lahan tempat pohon randu alas berdiri diketahui merupakan gabungan tanah desa dan tanah milik warga. Seluruh pihak, baik pemerintah desa maupun masyarakat, telah menyepakati rencana penebangan demi keselamatan bersama.

Salah satu warga, Ashari (53), mengatakan pohon tersebut dulunya ditanam oleh kakek buyutnya sebagai penanda batas tanah.

“Dulu ini sebagai batas tanah. Sebelah utara tanah pribadi, sebelah selatan tanah bengkok,” jelasnya.

Ia mengaku sejak kecil pohon randu alas sudah berukuran besar dan hampir tidak mengalami perubahan ukuran hingga kini.

“Sekarang ranting-rantingnya sudah mulai jatuh ke atap rumah. Itu yang bikin khawatir,” katanya.

Warga lainnya, Atmojo, berharap penebangan tidak dilakukan secara total.

“Kalau bisa jangan dipotong habis. Disisakan sekitar lima meter sebagai penanda sejarah. Secara historis, randu alas ini sudah jadi ikon Desa Tuksongo,” ujarnya.

Menurutnya, jika pohon ditebang hingga ke akar, maka jejak sejarah desa akan benar-benar hilang.

Sumber : Kompas.com

  • Penulis: admin.vimags

Tanggapan Sobat Vimags (0)

Saat ini belum ada komentar

Leave a Reply

Rekomendasi untuk Sobat Vimags

  • Magelang Tuan Rumah Retret Ketua DPRD Se-Indonesia di Akmil

    Magelang Tuan Rumah Retret Ketua DPRD Se-Indonesia di Akmil

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle admin.vimags
    • visibility 646
    • 0Komentar

    Magelang Kembali Jadi Tuan Rumah Agenda Nasional Sobat Vimags, Kota Magelang kembali dipercaya menjadi tuan rumah agenda nasional bergengsi. Pada 15–19 April 2026, ratusan pimpinan DPRD dari seluruh Indonesia akan […]

  • Pesona Dagi Abhinaya Yang Tersembunyi

    Pesona Dagi Abhinaya Yang Tersembunyi

    • calendar_month Sabtu, 7 Des 2024
    • account_circle admin.vimags
    • visibility 349
    • 0Komentar

    Candi Borobudur adalah wisata yang hampir semua orang dibelahan bumi ini mengetahuinya. Candi Borobudur kini tak hanya mempunyai Candi namun mempunyai banyak sekali wahana yang menarik. Selain wahana baru terdapat […]

  • 8 Kelurahan Berebut Jadi Kampung Wisata Kota Magelang, Ini Daftarnya

    8 Kelurahan Berebut Jadi Kampung Wisata Kota Magelang, Ini Daftarnya

    • calendar_month Minggu, 4 Okt 2026
    • account_circle admin.vimags
    • visibility 147
    • 0Komentar

    Sobat Vimags, pengembangan wisata berbasis masyarakat di Kota Magelang terus diperkuat. Pemerintah Kota Magelang saat ini tengah menyiapkan lima kampung wisata yang nantinya akan ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Wali […]

  • Getuk Eco, Oleh Oleh Magelang dengan Citarasa Khas Ketela

    Getuk Eco, Oleh Oleh Magelang dengan Citarasa Khas Ketela

    • calendar_month Senin, 25 Nov 2024
    • account_circle admin.vimags
    • visibility 479
    • 0Komentar

    Getuk merupakan makanan ringan yang terbuat dari bahan utamanya singkong. Getuk juga dikenal sebagai makanan khas dan diproduksi di Kota Magelang sejak tahun 1940-an, hingga saat ini tetap diproses tanpa bahan […]

  • Cara Memilih Jasa Pengelolaan Limbah B3 yang Legal dan Terpercaya

    Cara Memilih Jasa Pengelolaan Limbah B3 yang Legal dan Terpercaya

    • calendar_month Senin, 19 Okt 2026
    • account_circle admin.vimags
    • visibility 15
    • 0Komentar

    Memilih jasa pengelolaan limbah B3 yang legal dan terpercaya merupakan langkah penting bagi perusahaan. Pengelolaan yang tepat membantu mencegah risiko terhadap lingkungan dan kesehatan. Karena itu, penyedia jasa perlu dipilih […]

  • Wajik Week Magelang, Kuliner Manis Sejuta Historis

    Wajik Week Magelang, Kuliner Manis Sejuta Historis

    • calendar_month Senin, 25 Nov 2024
    • account_circle admin.vimags
    • visibility 542
    • 0Komentar

    Banyak daerah yang memiliki kuliner berbahan dasar beras ketan ini dengan nama yang berbeda-beda. Dan satu yang paling terkenal adalah Wajik Week Magelang yang legendaris itu. Wajik Week adalah wajik […]

expand_less