Pura Jagat Natha Resmi Berdiri, Alun-alun Kota Magelang Kini Punya 5 Rumah Ibadah
- account_circle admin.vimags
- calendar_month Sabtu, 26 Sep 2026
- visibility 132
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pura Jagat Natha yang diperuntukkan bagi umat Hindu resmi berdiri (Photo : Magelangkota.go.id)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sobat Vimags, wajah keberagaman Kota Magelang kini semakin lengkap. Pura Jagat Natha yang diperuntukkan bagi umat Hindu resmi berdiri di kawasan Alun-alun Utara Kota Magelang dan diresmikan pada Sabtu, 26 September 2026.
Pura Jagat Natha menjadi rumah ibadah umat Hindu pertama yang berada di kawasan pusat Kota Magelang. Kehadirannya sekaligus melengkapi deretan rumah ibadah yang telah lebih dahulu berdiri di sekitar kawasan alun-alun.
Di kawasan tersebut terdapat Masjid Agung Magelang, Gereja Katolik St. Ignatius, GPIB Beth-El, serta Kelenteng Liong Hok Bio yang digunakan sebagai tempat ibadah umat Buddha dan Khonghucu.
Keberadaan berbagai rumah ibadah yang berdiri berdekatan ini menjadikan kawasan Alun-alun Kota Magelang sebagai salah satu simbol nyata kehidupan masyarakat yang beragam namun tetap hidup berdampingan.
Penantian Panjang Umat Hindu di Kota Magelang
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono mengatakan, berdirinya Pura Jagat Natha merupakan hasil dari penantian panjang umat Hindu yang telah diperjuangkan selama puluhan tahun.
Menurutnya, keberadaan berbagai rumah ibadah di kawasan alun-alun menjadi gambaran nyata bahwa keberagaman dapat tumbuh berdampingan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Alun-alun Kota Magelang menjadi cerminan toleransi yang nyata. Perbedaan justru membuat kita semakin kuat dan menjadi budaya bersatu,” kata Damar.
Pemerintah Kota Magelang menyediakan lahan seluas 225 meter persegi untuk pembangunan Pura Jagat Natha. Lahan tersebut berstatus sebagai aset pemerintah daerah.
Skema pemanfaatannya disebut sama seperti rumah ibadah lainnya yang berada di sekitar kawasan Alun-alun Kota Magelang.
Dibangun dengan Semangat Gotong Royong Lintas Agama
Keberadaan pura yang berada berdampingan dengan rumah ibadah lain juga telah dibicarakan bersama para pengurus dan komunitas lintas agama.
Damar memastikan aktivitas peribadatan dapat berjalan dengan baik karena sudah terdapat kesepakatan dalam penggunaan sejumlah sarana dan prasarana pendukung.
Menurutnya, pembangunan Pura Jagat Natha tidak hanya melibatkan umat Hindu, tetapi juga mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan.

Walikota Magelang di Pura Jagat Natha Kota Magelang (Photo: Magelangkota.go.id)
“Rumah ibadah ini tidak hanya umat Hindu yang membangun, tapi semua ikut bergotong-royong. Toleransi itu sudah jadi darah daging kita, kita rasakan, tidak usah diperdebatkan. Jangan terpaku pada angka indeks,” tegasnya.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jawa Tengah Tri Wahono juga menjelaskan bahwa pembangunan pura dapat terlaksana berkat kolaborasi lintas agama, dukungan pengusaha lokal, serta sinergi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Kota Magelang.
Biaya pembangunan fisik Pura Jagat Natha mencapai sekitar Rp450 juta, lebih rendah dibandingkan estimasi awal yang mencapai sekitar Rp800 juta.
Efisiensi tersebut terjadi karena sejumlah pekerjaan mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pembersihan lahan, pengerjaan kayu, hingga pemindahan jaringan listrik dan kabel internet.
Mengusung Arsitektur Bali dan Konsep Tri Mandala
Selain memiliki nilai penting bagi kehidupan keberagaman Kota Magelang, Pura Jagat Natha juga menarik dari sisi arsitektur.
Bangunan pura menggunakan batu alam yang berasal dari kawasan Gunung Merapi dan Banyuwangi. Nuansa arsitektur Bali terlihat pada sejumlah bagian bangunan, termasuk Balai Kulkul.
Secara tata ruang, Pura Jagat Natha menerapkan konsep Tri Mandala, yakni pembagian area pura menjadi tiga bagian berdasarkan fungsi dan tingkat kesuciannya.
Area pertama adalah Nista Mandala, yakni kawasan paling depan yang bersifat terbuka dan dapat diakses masyarakat umum.
Bagian kedua adalah Madya Mandala, yang digunakan sebagai area persiapan umat sebelum memasuki tempat peribadatan.
Sedangkan bagian ketiga adalah Utama Mandala, yaitu kawasan paling suci yang digunakan khusus untuk kegiatan peribadatan. Area tersebut memiliki kapasitas sekitar 50 hingga 60 orang.
Area Depan Pura Terbuka untuk Masyarakat
Untuk pengelolaan sehari-hari, PHDI akan menunjuk Pengempon sebagai pengurus Pura Jagat Natha.
Menariknya, bagian depan pura tetap dapat diakses masyarakat umum. Pengunjung dapat melihat lebih dekat arsitektur pura sekaligus menikmati ruang publik di kawasan pusat Kota Magelang.
Keberadaan Pura Jagat Natha pun menambah daya tarik kawasan Alun-alun Kota Magelang, tidak hanya sebagai pusat aktivitas masyarakat tetapi juga sebagai ruang yang memperlihatkan keberagaman budaya dan agama.
Peresmian Pura Jagat Natha turut ditandai dengan pelaksanaan upacara Melaspas serta penyucian sarana peribadatan.
Acara tersebut dihadiri unsur Forkopimda, umat Hindu, komunitas lintas agama, serta sejumlah tokoh masyarakat.
Berdirinya Pura Jagat Natha menjadi babak baru bagi umat Hindu di Kota Magelang sekaligus memperkuat wajah Alun-alun Kota Magelang sebagai ruang bersama yang merepresentasikan kebhinnekaan dan toleransi masyarakat.
Sumber: Prokompim Kota Magelang
- Penulis: admin.vimags







Saat ini belum ada komentar