Kabar Magelang
light_mode
Trending Tags
Beranda » Wisata Kuliner » Nasi Goreng Magelangan Pak Yatno Yang Bikin Ketagihan

Nasi Goreng Magelangan Pak Yatno Yang Bikin Ketagihan

  • account_circle admin.vimags
  • calendar_month Selasa, 26 Nov 2024
  • visibility 1.005
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

4.5/5 - (2 votes)

Anda pernah mendengar istilah Magelangan? Magelangan bukan julukan untuk nama tempat tetapi istilah untuk nasi goreng yang dicampur dengan bakmi. Dulu orang magelang belum menggunakan istilah magelangan untuk memesan nasi goreng campur mie, justru istilah ini muncul dari penggemar nasi dicampur mie dari daerah lain seperti Yogyakarta atau Semarang. Mereka memberikan julukan untuk Nasi dicampur dengan Mi dengan istilah Magelangan dan istilah ini menjadi populer sampai saat ini.

Kalau kamu sedang berada di Magelang dan ingin menyantap nasi goreng atau bakmi yang khas Magelang tidak ada salahnya anda mencoba Tempat Makan Nasi Goreng Pak Yatno ini.

Pembeli yang rutin membeli nasi goreng pak yatno berasal dari berbagai daerah termasuk Semarang, Yogyakarta serta daerah di luar Jawa Tengah. Pak Yatno tidak hanya menyediakan Nasi Goreng Magelangan tapi juga mi goreng, mie rebus atau sego godog. yaitu nasi yang direbus menyerupai mi godog. Tetapi Nasi Goreng Magelangan merupakan menu favorit di rumah makan pak Yatno. Satu lagi yang spesial dari tempat makan pak yatno yaitu hanya memakai daging ayam kampung untuk campuran masakannya.

Dimasak Satu Persatu

Jika kamu mau menyantap makanan dari Rumah Makan Pak Yatno sebaiknya kamu siapkan kesabaran yang ekstra terlebih jika ramai pembeli. Karena Pak Yatno memasak pesanannya porsi demi porsi, untuk mendapatkan cita rasa yang maksimal pak Yatno pantangan untuk memasak lebih dari satu porsi sekaligus. Begitupun cara memasaknya yang masih tradisional dengan memakai tungku arang yang membara, alhasil masakan matang sempurna. Kesabaran kamu akan terbayar lunas begitu sepiring pesanan kamu tersaji di atas meja. Jangan heran juga kalau tiap sendokan kamu mendapatkan suwiran daging ayam yang tebal. Sebelumnya daging ayam telah direbus sehingga terasa empuk saat kamu makan.

Apa yang membuat magelangan racikan Yatno begitu sedap? Dia tak ragu berbagai rahasia dapur.

Menurutnya, bumbu dasar untuk membuat olahan nasi maupun bakmi sama seperti pedagang lain, yakni mengandalkan bawang putih dan merica. Nah, agar lebih lebih sedap, Yatno menambahkan udang kering atau ebi yang ditumbuk bersama dua bumbu utama tadi. Bumbu kemudian ditumis sebentar hingga mengeluarkan aroma nan harum. Selanjutnya bahan lain dimasukkan sesuai jenis masakan.

Jangan salah, ini bukan resep turun-temurun, lo. Yatno mengaku belajar memasak magelangan secara autodidak. Tetapi beliau sering kumpul dengan pedagang mi asal Wonosari untuk bertukar pengalaman.

Lokasi Rumah Makan Nasi Goreng Pak Yatno

Lokasi tempat makan Pak Yatno tidak sulit kamu temui karena terletak di pinggir jalan raya Magelang–Yogyakarta (Jalan Mayjen Bambang Soegeng), sebelum lampu merah Mertoyodan, jika Anda melaju dari Jogja. Warung ini juga persis berseberangan dengan pabrik karoseri New Armada. Anda tak perlu ragu memarkir mobil kalau sudah mendapati spanduk bertuliskan Nasi Goreng Pak Yatno.

Alamat : Jl. Mayjen Bambang Soegeng Magelang, Jawa Tengah.

  • Penulis: admin.vimags

Tanggapan Sobat Vimags (0)

Saat ini belum ada komentar

Leave a Reply

Rekomendasi untuk Sobat Vimags

  • Tahukah Kamu? Tradisi Saparan Masih Hidup di Magelang

    Tahukah Kamu? Tradisi Saparan Masih Hidup di Magelang

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle admin.vimags
    • visibility 590
    • 0Komentar

    Tahukah kamu bahwa Tradisi Saparan masih terus dilestarikan oleh masyarakat Magelang hingga saat ini? Tradisi ini merupakan bagian dari warisan budaya Jawa yang sarat makna spiritual, sosial, dan kebersamaan. Saparan […]

  • Pohon Randu Alas di Borobudur

    Pohon Randu Berusia Ratusan Tahun di Borobudur Terancam Ditebang, Ikon Desa Tuksongo Terancam Hilang

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle admin.vimags
    • visibility 523
    • 0Komentar

    Sebuah pohon randu alas berusia ratusan tahun yang selama ini menjadi ikon Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, terancam ditebang. Pohon legendaris yang berdiri di Lapangan Randu Alas tersebut dinilai […]

  • Cara Memilih Jasa Pengelolaan Limbah B3 yang Legal dan Terpercaya

    Cara Memilih Jasa Pengelolaan Limbah B3 yang Legal dan Terpercaya

    • calendar_month Senin, 19 Okt 2026
    • account_circle admin.vimags
    • visibility 15
    • 0Komentar

    Memilih jasa pengelolaan limbah B3 yang legal dan terpercaya merupakan langkah penting bagi perusahaan. Pengelolaan yang tepat membantu mencegah risiko terhadap lingkungan dan kesehatan. Karena itu, penyedia jasa perlu dipilih […]

  • Daniel Alamsjah, Sosok Pemulih Jiwa & Pembawa Pesan Toleransi

    Daniel Alamsjah, Sosok Pemulih Jiwa & Pembawa Pesan Toleransi

    • calendar_month Sabtu, 23 Nov 2024
    • account_circle admin.vimags
    • visibility 413
    • 0Komentar

    Daniel Alamsjah (81) terpanggil untuk membangun Rumah Doa Bukit Rhema dan Panti Rehabilitasi Mental Betesda demi membantu sesama yang mengalami masalah kesehatan mental. Meskipun bukan seorang rohaniawan atau memiliki latar […]

  • Tour de Borobudur XXIV: Mengangkat Pariwisata Jawa Tengah Melalui Sport Tourism

    Tour de Borobudur XXIV: Mengangkat Pariwisata Jawa Tengah Melalui Sport Tourism

    • calendar_month Sabtu, 7 Des 2024
    • account_circle admin.vimags
    • visibility 222
    • 0Komentar

    Tour de Borobudur (TdB) XXIV 2024 sukses digelar pada Sabtu (7/12/2024), melibatkan 400 pesepeda dari berbagai daerah dan mancanegara. Event ini menjadi salah satu ajang olahraga sepeda terbesar di Jawa […]

  • Tahukah Kamu Sejarah Pecinan Muntilan

    Tahukah Kamu Sejarah Pecinan Muntilan

    • calendar_month Kamis, 28 Nov 2024
    • account_circle admin.vimags
    • visibility 454
    • 0Komentar

    Stigma tentang komunitas Tionghoa yang dianggap eksklusif di Indonesia ternyata tidak muncul secara alami, melainkan sengaja dibentuk oleh penjajah Belanda. Pecinan menjadi simbol eksklusivitas ini, meskipun awalnya dibentuk sebagai alat […]

expand_less