Magelang Kota Seribu Getuk, Lambang Keragaman Dalam Persatuan

Jargon tersebut seharusnya juga disematkan kepada Kota Magelang, mengingat banyak dan mudahnya kita menemukan kuliner yang satu ini. Mulai dari pasar tradisional di seluruh sudut kota, hingga pusat oleh-oleh modern yang tersebar di titik-titik strategis. Wisatawan yang datangpun sudah tidak ragu untuk memborong getuk dan membawanya ke seluruh Indonesia. Sebuah prestasi yang cukup membanggakan karena kesan makanan ndeso dan nggunung masih cukup melekat pada olahan singkong ini.

Dan Magelang telah berhasil mengubah pandangan itu, dengan banyaknya pengusaha kreatif yang mampu mengolah serta meramu getuk secara modern sehingga berhasil menghiasi jamuan penting pemerintahan, acara kenegaraan bahkan even-even internasional. Prestasi yang cukup membanggakan juga ditorehkan oleh salah satu gerai oleh-oleh sekaligus produsen getuk “Marem” pada 2003, dimana berhasil mencatatkan rekor Muri sebagai pembuat getuk terpanjang di Indonesia. Bahkan kini, para pengusaha lain juga sudah mulai berinovasi dengan menciptakan ragam olahan yang berbeda. Zaman dahulu, mungkin hanya mengenal beberapa jenis getuk seperti dua bersaudara Getuk Gondok dan Getuk Pojok ataupun Getuk Trio. Namun sekarang kita bisa menjumpai olahan lain seperti ceriping getuk, yang lebih tahan lama, atau bahkan getuk bolen, yang dicampur citarasa eropa dengan paduan roti kering nan lembutnya.

Sejarah panjang getuk juga telah membuat kisah tersendiri bagi para produsennya. Keluarga produsen getuk yang rata-rata telah memasuki generasi ke-3 tetap mempertahankan eksistensi sekaligus mengembangkan potensi nyata itu. Filosofi yang tertanam pada getuk juga menjadi penambah motivasi bagi para pembuatnya.

Baca Juga :   Akhirnya, Pasar Rejowinangun Magelang Raih Predikat Pasar Terbaik Nasional
Getuk sebagai Lambang Persatuan dalam Keragaman

Tidak banyak yang tahu jika getuk merupakan wujud persatuan dalam keberagaman yang diimplementasikan pada makanan. Getuk, di Magelang utamanya, dibuat dalam beragam warna bentuk, bahkan rasa. Cobalah anda mampir di salah satu gerai getuk di pasar kebanggan warga Magelang, Pasar Rejowinangun, serta belilah getuk dalam bentuk tampah (wadah lebar dari bambu). Maka anda akan melihat sebuah keindahan yang tersusun dari adanya keanekaragaman. Anda mungkin tidak akan percaya jika lambang keberagaman itu datang dari sebuah makanan kuno yang terbuat dari singkong.

Jadi, jangan ragu. Tidak perlu khawatir tentang harga. Hanya mulai dari Rp.5000,- saja anda sudah bisa mulai merasakan kenikmatan citarasa tradisional, diolah dengan cara modern dan melambangkan persatuan dalam keanekaragaman dari sebuah olahan bernama getuk.

Magelang memang miniatur Nusantara. Saya telah datang ke Magelang hari ini. Dan besok Bumi Tidar akan selamanya di hati saya.

Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Artikel Kuliner Magelang 2017

Latest posts by ekorahmadwidodo (see all)