Pohon Randu Berusia Ratusan Tahun di Borobudur Terancam Ditebang, Ikon Desa Tuksongo Terancam Hilang
Sebuah pohon randu alas berusia ratusan tahun yang selama ini menjadi ikon Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, terancam ditebang. Pohon legendaris yang berdiri di Lapangan Randu Alas tersebut dinilai sudah mati dan berpotensi membahayakan warga maupun wisatawan.
Pohon randu alas ini dikenal luas karena posisinya yang strategis dan mudah terlihat dari kejauhan. Dengan batang menjulang tinggi dan latar belakang Perbukitan Menoreh, pohon ini kerap menjadi spot favorit wisatawan yang berkunjung menggunakan VW Safari, jeep wisata, ATV, hingga rombongan tur desa wisata.
Namun, di balik keindahannya, kondisi pohon randu alas kini memprihatinkan. Batangnya mengelupas dan tampak kering dari pangkal hingga ke ranting-ranting. Sejumlah dahan bahkan mulai rapuh dan berpotensi patah, terutama saat hujan deras disertai angin kencang.

Di bawah pohon tersebut, sebelumnya juga dibangun area berteduh berbentuk setengah lingkaran yang biasa digunakan wisatawan untuk beristirahat dan berfoto.
Pemerintah Desa: Berat, Tapi Demi Keselamatan
Kepala Desa Tuksongo, M Abdul Karim, membenarkan rencana penebangan pohon randu alas yang telah menjadi ikon desa selama ratusan tahun.
“Sebetulnya kami sangat menyayangkan, karena pohon randu ini adalah ikon desa kami. Tapi usianya memang sudah ratusan tahun dan kondisinya sudah mati,” ujar Karim
Menurutnya, keberadaan pohon tersebut sudah ada sejak masa kakek buyutnya. Bahkan diperkirakan usia pohon mencapai lebih dari 200 tahun.

“Dari simbah saya masih ada, pohon itu sudah besar. Jadi kemungkinan usianya lebih dari 200 tahun,” jelasnya.
Lapangan Randu Alas sendiri saat ini menjadi salah satu titik singgah wisata favorit di Borobudur. Banyak wisatawan masuk ke area lapangan untuk mengabadikan momen dengan latar alam pedesaan dan Perbukitan Menoreh.
“Rencana penebangan ini sebagai langkah antisipasi sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan,” tegas Karim.
Ia menjelaskan bahwa pohon randu alas tersebut sudah tidak memiliki inti kayu (galihe), sehingga rawan patah dan roboh.
“Yang kami takutkan, kalau tidak ditebang, ada ranting atau batang yang menimpa wisatawan,” tambahnya.
Upaya Penyelamatan Gagal Dilakukan
Sebelum memutuskan penebangan, pemerintah desa bersama BPD dan Bumdes telah berupaya menyelamatkan pohon randu alas tersebut.
“Kami sudah ke DLH untuk meminta pengupayaan agar pohon bisa disembuhkan dari pengeringan. Tapi setelah diobati, kondisinya tetap kering. Mungkin memang sudah waktunya,” ungkap Karim.
Rencana penebangan diperkirakan akan dilakukan dalam waktu dekat dengan melibatkan tenaga profesional dari luar daerah, mengingat ukuran pohon yang sangat besar dan prosesnya yang tidak mudah.
“Penebangan harus matang persiapannya agar tidak terjadi apa-apa,” ujarnya.
Warga Sepakat, Tapi Ingin Jejak Sejarah Tetap Ada
Lahan tempat pohon randu alas berdiri diketahui merupakan gabungan tanah desa dan tanah milik warga. Seluruh pihak, baik pemerintah desa maupun masyarakat, telah menyepakati rencana penebangan demi keselamatan bersama.
Salah satu warga, Ashari (53), mengatakan pohon tersebut dulunya ditanam oleh kakek buyutnya sebagai penanda batas tanah.
“Dulu ini sebagai batas tanah. Sebelah utara tanah pribadi, sebelah selatan tanah bengkok,” jelasnya.
Ia mengaku sejak kecil pohon randu alas sudah berukuran besar dan hampir tidak mengalami perubahan ukuran hingga kini.
“Sekarang ranting-rantingnya sudah mulai jatuh ke atap rumah. Itu yang bikin khawatir,” katanya.
Warga lainnya, Atmojo, berharap penebangan tidak dilakukan secara total.
“Kalau bisa jangan dipotong habis. Disisakan sekitar lima meter sebagai penanda sejarah. Secara historis, randu alas ini sudah jadi ikon Desa Tuksongo,” ujarnya.
Menurutnya, jika pohon ditebang hingga ke akar, maka jejak sejarah desa akan benar-benar hilang.
Sumber : Kompas.com
