Tercandu Olahan Mie di Balik Tenda Bakmi Tjek Siang

4.8/5 (5)

Berapa rating lokasi ini menurut kamu?

Berfikir tentang makanan, yang pasti dan utama adalah karena kepentingan perut, lebih dari itu yang tidak dapat dilewatkan, mau tidak mau, lidah adalah juri tajam dari makanan yang akan masuk ke perut. Bersama teman-temannya beliau akan mencabik-cabik dan memproses makanan tersebut semaunya, yang dibarengi keputusan penilaian terhadap makanan itu yakni biasa saja, enak, tidak enak, dan kritik pedas bon cabe level 30 sesekali sering mampu dilontarkannya tanpa dosa. Begitupun, lidahku.

Beberapa kali menemukan makanan yang satu selera, tapi juga terkadang tidak ada apa-apanya. Kali ini, informasi tentang ‘dirinya’ aku dapat dari seseorang yang enggan disebutkan namanya, ya! Manusia mana yang tidak menyukai olahan makanan panjang, terkadang keriting kemudian pipih, atau tebal tapi kenyal, dan bisa jadi dia berbentuk pipih, tebal, dan kenyal. Sempurna. Sebut saja dia ‘Mie’. Olahan Mie kali ini, aku menemukannya di sebuah pinggiran jalan Kota Magelang yang terkadang ramai, dibubuhi tenda biru yang tidak seluas kamar kos-kosan anak kuliahan, tapi entah, membuatku candu untuk selalu memarkirkan motor di dekatnya. Ibu-ibu paruh baya dan anaknya yang masih muda selalu menunggu dibalik tenda bertuliskan “Bakmi Tjek Siang” yang entah, belum pernah aku tanyakan apa makna dari namanya.

Mie mentah yang terjajar rapi di etalase, sayuran dan pangsit pelengkap itu selalu menjadi sorotan pertama ketika aku datang. Satu mangkuk yang aku pesan datang tak terlambat, tidak lama, tidak sebentar, kira-kira pas untuk membuat sabar sedikit perutku. Aromanya tidak terlalu menyeka rongga hidungku, namun penampakannya begitu sangat menggugah alam sadarku. Ada dua pilihan menu, Bakmi Kuah dan Bakmi Kering. Hingga saat tulisan ini aku buat, bakmi kering atau goreng atau tanpa kuah, masih menjadi idolaku. Baiklah, akan aku coba menjelaskannya. Ayam suir yang benar-benar hanya daging berada paling atas di bagian mangkuk dengan bawang merah goreng yang teriris tipis membuatku selalu enggan melewatkannya. Kemudian, seringnya daun-daun yang tidak bisa banyak orang tebak, berjajar disekitar bak menghiasi mangkuk yang sebenarnya sederhana itu, sayur bayam, memang sayur bayam, sayur kegemaran Popeye itu tak arang membuatku selalu bertanya, kenapa harus bayam, bagiku memang ini tidak wajar, atau karena baru sekali aku melihat campuran sayur ini di sebuah olahan mie. Jika dapat digambarkan, sayur ini sangat terkombinasi dengan apik ditengah bumbu yang pasti membuatku tak mudah melupakannya. Persoalan bumbu, aku bukanlah ahli yang dapat menebak apa saja yang terdapat didalamnya, yang pasti bumbu ini terasa manis dan gurih, tercampur rata dengan mie, terbukti dari keseluruhan mie yang telah berubah berwarna kecoklatan karena bumbu yang bersangkutan. Berbicara tentang klimaks dari isi satu mangkuk ini, pangsit. Pangsit basah terduduk manis di dasar mangkuk tanpa protes. Ia rela menunggu untuk disantap terakhir, karena memang itu pekerjaannya. Entah apa isian dari pangsit basah tersebut setiap kunyahan sangat terasa, lumuran bumbu didasar mangkuk membuatku benar-benar tidak mampu mendeskripsikannya. Habislah satu mangkuk itu, sekejap.

Baca Juga :   Tahukah Kamu? Sejarah Pecinan Muntilan

Jika tidak mengingat seberapa besar perutku, aku tidak akan melewatkan waktuku hanya untuk satu mangkuk saja di tenda biru itu.

Peta Lokasi Bakmi Tjek Siang

Artikel ini sedang diikutkan dalam Lomba Menulis Artikel Kuliner Magelang 2017