Kalau bicara tentang sate, sebagian besar dari kita pasti berpikir daging ayam atau daging kambing. Tetapi tahukah kamu kalau Magelang punya sate legendaris yang sudah ada sejak tahun 1950an. Ya, Sate Pisang merupakan sate legendaris yang ada di Magelang.

Sate yang terhidang dengan lumuran bubur berbahan santan kental dan adonan tepung hunkwe, rasanya gurih berpadu dengan manisnya potongan pisang kepok rebus pada tiap tusuknya. Sate pisang dihidangkan dengan beralaskan daun pisang, penyajian seperti ini menjadikan kesan dan aroma tradisional semakin terasa.

Sate pisang biasa dimakan bersama dengan semangkuk ronde hangat. Peminat sate pisang sambung menyambung terus tanpa putus mulai dari wisatawan yang baru sekali mencicipi sampai dengan penikmat yang sudah puluhan tahun.

Kedai Wedang Ronde Miroso merupakan penjual sate pisang sejak tahun 1950. Kedai Miroso didirikan Ny. Suwondo (91), ibunda Hermien sejak 60 tahun silam, ketika usia Hermien 7-8 tahun. Awalnya mengontrak sebagian kecil dari ruangan toko, beberapa tahun kemudian Suwondo membeli seluruh bangunan toko itu. Sebagai sulung dari enam bersaudara, Hermien kecil melihat ibunya belajar membuat sate pisang dari neneknya yang tinggal di Solo. Dulu, ia sering membantu ibunya membuat sate pisang.

“Ibu saya melihat di Magelang belum ada yang jual sate pisang, lalu memanfaatkan kesempatan itu. Ternyata laku. Lalu, banyak yang ikut berjualan sate pisang,” kisahnya. Sate pisang berupa pisang kepok merah rebus yang dipotong-potong dan ditusuk lidi layaknya sate lalu diberi saus santan kental itu rupanya menarik perhatian orang. Apalagi, rasanya yang manis gurih dengan saus yang selalu basah jadi ciri khas yang membedakannya dari sate pisang lain.

Baca Juga :   Tahukah Kamu? Apa Itu Makanan Jenang Leri?

Sejak dulu sampai sekarang, menurut Hermien, rasa, bentuk, dan penyajianya tidak pernah berubah. Santannya tetap basah, tidak kempel seperti kue nagasari. Bila sate pisangnya sisa, Hermien, yang baru ikut berjualan sejak 2006, setelah tak lagi tinggal di Jakarta ini menjelaskan, tak akan menjualnya lagi besoknya. Sebab, saus akan terasa asam dan berair. Itu sebabnya, Hermien memilih membuat sate pisang secara bertahap dalam sehari. Ia baru akan membuatnya lagi, bila persediannya sudah habis.

Saat ini sudah banyak tempat yang menjual sate pisang dan akhirnya sate pisang menjadi sate legendaris yang hanya ada di Magelang.

Yowen

Yowen

Marketer | Traveler at https://visitmagelang.id
Saya orang yang suka traveling ke tempat wisata dengan nuansa alam yang sejuk. Hobby kuliner masakan Indonesia.
Yowen

Komentar

komentar

Similar Posts