BeritaKilas Magelang

Anak Tukang Sate Lulus Cum Laude di Universitas Tidar

Jalaludin (55) seorang penjual sate keliling sangat bangga bisa menyaksikan putrinya wisuda dengan nilai tertinggi di Universitas Tidar (Untidar) Kota Magelang, Jawa Tengah.

Orang tua mana yang tak bangga bisa melihat anaknya berprestasi. Siti Marfuah (26), dipanggil ke podium menerima penghargaan dari rektor Untidar sebagai salah satu wisudawati terbaik.

Sebagai rasa syukur atas prestasi anaknya, Jalaludin membawa gerobak satenya dan memberikan 100 porsi sate lontong gratis kepada wisudawan dan tamu undangan atau siapapun yang mau sate.

Sejak sekolah dasar memang sudah berprestasi meraih peringkat 10 besar. Ketika duduk di bangku SMP 3 Magelang dan SMA 3 Magelang, Siti langganan juara umum di sekolahnya. Saat kuliah pun, Siti kerap ikut mengikuti perlombaan akademis.

Ternyata selain berprestasi Siti adalah anak yang mandiri. Dia nyaris tidak pernah meminta uang untuk biaya kuliah kepada orangtua.

Siti sudah memiliki pendapatan sendiri dari pekerjaannya sebagai guru les privat anak-anak SD di lingkungannya. Jadi semua biaya kuliah, dia bayar sendiri. Tidak pernah meminta uang dari orang Tua. Siti membuka les privat untuk anak-anak sd.

Pendapatannya sebagai tukang sate keliling memang tidak cukup untuk membiayai kuliah Siti. Terlebih, Jalal masih harus menafkahi istri dan empat anaknya yang lain. Setiap hari dia dibantu sang istri, Satuna (55), yang juga berjualan sate di Pasar Payaman, Kabupaten Magelang.

Baca Juga :   Himbauan Dokter Reisa Agar Tak Bawa Anak dan Orang Rentan Ke Taman Wisata.

Siti sendiri mengaku lega bisa menyelesaikan pendidikan diploma tiganya dengan nilai memuaskan. Hasil ini tak lepas dari kerja kerasnya sejak lulus SMA. Dia rela bekerja membuka les selama lima tahun sebelum kemudian mendaftar kuliah.

Setelah bekerja lima tahun dengan membuka les matematika dan pelajaran lainnya untuk anak-anak sd, barulah uang terkumpul untuk biaya pendaftaran kuliahnya di Universitas Tidar Magelang.

Saat mendaftar kuliah pun Siti tak bercerita dengan orangtuanya, karena khawatir akan membuat orangtuanya berpikir tentang biaya kuliah. Tapi mau tidak mau dia harus cerita dan meyakinkan orantuanya bahwa biaya pendidikan adalah tanggungjawabnya sendiri.

Semoga kisah Siti menjadi teladan sekaligus motivasi generasi sekarang untuk bersemangat menempuh pendidikan.

Yowen